Sunday, 19 May 2013

SAJAK SEBATANG LISONG

SAJAK SEBATANG LISONG
Oleh: W.S.Rendra

Mengisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya Mendengar 130 juta rakyat
Dan dilangit dua tiga cukong mengangkang,
Berak diatas kepala mereka
Matahari terbit fajar tiba
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
Aku bertanya,
tapi pertanya'an-pertanya'anku membentur meja kekuasa'an yang macet

Dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan
Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan, Tanpa pepohonan,tanpa dangau persinggahan,
Dan tanpa ada bayangan ujungnya
Menghisap udara yang disemprot deodorant,,
Aku melihat serjana-serjana menganggur berpeluh dijalan raya
Aku melihat wanita bunting antri uang pensiun,,
Dan dilangit para tekhnokrat berkata:
Bahwa bangsa kita malas,
Bahwa bangsa mesti dibangun,
Mesti di-up-grade di sesuaikan dengan teknologi yang di impor
Gunung-gunung menjulang
langit pesta warna disenjakala
Dan aku melihat protes-protes yang terpendam terhimpit dibawah tilam
Aku bertanya, tetapi pertanya'anku membentur jidat penyair-penyair salon,
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
Dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
Termangu-mangu dikaki dewi kesenian
Bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya
dibawah iklan berlampu neon
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gebalau suara yang kacau,
Menjadi karang dibawah samudra
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing,
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keada'an
Kita mesti keluar kejalan raya,
keluar kedesa-desa mencatat sendiri gejala dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku pamplet masa darurat
Apakah arti renda-renda kesenian bila terpisang dari drita lingkungan
Apakah arti berfikir bila terpisah dari masalah kehidupan

Related Posts:

  • Syair Cinta Arya Dwipangga Syair Cinta Arya Dwipangga kepada Nari Ratih bianglala atas kurawanserupa lengkung indahbibir sang rupawan sekuntum cempaka bersilamenawan taman sari mangunturduhai gulita, ingin kubawa semerbakbersama binar chandra kartikab… Read More
  • SYAIR DUKA PANGERAN KEGELAPAN (Arya Dwipangga) "SYAIR DUKA PANGERAN KEGELAPAN" Oh betara... Sudah sulit kubedakan hidup dan siksa, Stiap nafas dan langkah kurasa drita oh betara.... Buka matamu dan saksikan dritaku, Telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu oh … Read More
  • TEMPAT MENAHAN AIR MATA TEMPAT MENAHAN AIR MATA (Arya Dwi Pangga) Sementara usia memamah nyawa Kita coba jadi orang-orang riang Terbahak dirumpun lobak sawi Pada kepal nasi dilicin daun pisang Minyak sambal dan butir-butir rimbang Kita santap jerih… Read More
  • Syair Kehidupan (Arya Dwi Pangga) Jangan ada suara bila syairku sedang bicara Karna suaraku ingin memutar balik cakra dunia Kenapa orang bijak bicara dengan jumawa Tidak ada yang abadi dijagat raya ini, Kecuali ketidak abadian itu sendiri Padahal duka hi… Read More
  • Syair Pendekar Syair Berdarah Ketika kata-kata…………… Sudah tidak bisa menjawab tanya…………… Maka bahasa pedanglah yang bicara……………… Bahasa para ksatria…………… Bahwa bumi mununtut sesaji darah manusia…………… Pedang…………… Taring betarakala sedang di amuk murka…………… Read More